Kau tau kata apa yang dapat ku ucapkan saat ini? Kata apa yang selalu terbesit saat kita berada dalam keadaan seperti ini? Apakah kau lelah dengan keadaan ini? Apakah dipersimpangan jalan kau telah menemui titik jemu tentang diriku? Apakah kau telah melihat bingkai hitamku yang dahulu tak pernah terlihat karena semuanya sudah tertutupi oleh serbuah perasaan yang menggelora yang telah tertancap didalam relung hatimu? Ya semuanya tampak sekarang kan? Jemu, ketidakpedulian, rasa jenuh yang menggebu-gebu, dan rasa 'tidak penting'. Apakah kau masih mengharapkan kehadiranku? Apa kehadiranku hanya kau jadikan sebuah onggokan sampah yang sama sekali tiada artinya? Aku ingin dihargai, dan kau pun pastinya seperti itu. Hargailah aku selagi aku masih bisa menemani hari-harimu itu. Hari-hari yang mungkin akan istimewa ada maupun tidak adanya diriku ini.
Hambar di Sepucuk Cerita
Bentangan rasa hambar yang menyelimuti sesuatu yang tertancap diruang hati ini. Lipatannya terlihat jelas melalui kelopak netra ini yang beradu dengan segelintir warna. Dan batasnya terbang melayang-layang ke dasar awan menghanyutkan dipercikan-percikannya. Kucoba bangunkan dari mimpi semumu, tetapi yang ada hanya sorotan-sorotan tajam yang bertuju kedalam hantaman keras sinarnya. Tetesan kekecewaan yang bersolek melalui tembang lara menghanyutkan disekilas kisahnya. "Apakah kau masih mencintaiku? Seperti dahulu? Disaat kau selalu merindukanku?" Dimanakah larutan cinta yang dahulu sempat kau tuangkan didalam hati kecilku? Dimanakah juga dahagamu atas kerinduanmu kepadaku? Sirnakah semuanya? Apa mungkin ini hanya bayanganku saja disepucuk kisah perjalan kita?
190712-drahlt
190712-drahlt
Sepetik Kisah Untukmu
Sebuah kisah untuk orang yang cukup berarti didalam hidupku. Dengan balutan kerinduan yang mendalam, ku tulis curahan hati ini agar sekiranya dapat kau baca melalui teropong yang sama denganku, yaitu teropong kerinduanmu.
Mentari menghilang sejenak dari peraduan kedua kelopak mataku. Perlahan cahaya bintang - bintang mulai menampakkan keindahannya. Detik demi detik menghapus semua rasa yang ada. Ya memang benar apa katamu itu "Kasih sayang itu tidak akan pernah mati, cuma terkadang hanya tertutupi oleh sesuatu." Membuka lembaran baru tanpa diselipi oleh rasa rindumu, berjalan sendiri tanpa naluri kasih sayangmu. Rasa tersedu yang masih tinggal didalam kalbu ini sambil tetap menanti apakah kau akan kembali menempati ruang hati ini walau hanya kuberikan sedikit ruang kosong untukmu. Kemanakah ruang kosong yang lain? yang dahulu pernah ku janjikan untukmu? "Ruang itu telah hilang bersama nanar kesedihan yang sudah ku pendam jauh entah dimana."
Disini aku masih tetap menanti hatimu, meskipan aku terkadang lelah dengan apapun yang kau minta. Aku bertahan karena aku tetap ingin mempertahankan apa yang memang seharusnya dipertahankan. Aku lebih memilih tetap memberikan kasih sayang dan menuangkan rasa rinduku kepadamu. Aku tidak ingin kasih sayangku tertutupi oleh sesuatu entah apapun itu.
9-7-12# w/♥ drahlt
problem and problems :D
kamu tahu apa yang aku rasakan? bukan sakit sih tetapi lebih buruk dari ditusuk-tusukpake pisau haha. Ga mau muluk-muluk aja sih aku cuma minta kamu ngerti aja. Sebenernya bukannya kamu ga ngerti tapi caramu yang salah mengerti aku. Aku mencoba meredam dan agar terlihat baik lagi eh malah responnya flat dan terlihat kasar bgt. Ngerasa bukan kayak pacarnya lagi :'( aku bingung sekarang apa yg harus aku lakuin, aku takut salah lagi dimata kamu :'( rasanya ga sakit cuma ngganjel aja :'D aku mau kita baik baik aja tapi kamunya kenapa juga kayak gitu? :'o aku bingung, aku takut, aku capek. Bukan capek sama kamu tapi capek sama keadaan ini :'( mau mulai coversation aja terlihat kaku apa lagi kayak dulu lagi :'o apa harus aku dulu? kenapa harus aku? aku yang harusnya marah disini bukan kamu!!! AAAAAAAAAAAAAAA!!!! dan kamu tau gak hal paling nyakitin? ada new message dan ternyata bukan kamu :''''( hapeku php bgt ya-,- aku gak suka kamu yg kayak gini :'''(((( tapi mungkin yg salah emang aku :'(((( aku yg salah dan selalu aku!!!!!!-,-*kamu monyetnya aku macannya yg unyu2 :'p
Buat Apa Berkerudung Kalau Kelakuan Rusak" Benarkah?
Menyampaikan kebaikan itu adalah sebuah kebaikan. Berangkat dari istilah tersebut saya tergerak untuk menyampaikan kembali artikel yang sangat bermanfaat ini. Artikel ini saya sadur dari Dakwatuna.com dengan judul yang sama, karangan username Sandylegia pada bagian surat pembaca. Terima kasih Akhiy atas artikel yang sangat bermanfaat ini. Permasalah ini banyak kita lihat dalam keseharian kita tentang bagaimana mereka beropini tentang Muslimah. Berikut adalah isi artikelnya tanpa saya rubah satu kalimat pun (Kecuali format). Buat Apa Berkerudung Kalau Kelakuan Rusak" Benarkah? Oleh : Sandylegia
Perempuan yang baik adalah yang bagus agamanya, yang dimaksud ‘agamanya’ adalah agama dalam hati bukan dalam penampilan. Pertanyaan, “Berarti lebih bagus perempuan tidak berkerudung tapi baik kelakuannya (beragama) daripada perempuan berkerudung yang tidak beragama (tidak baik kelakuannya)? Jawab: “Yang lebih bagus adalah perempuan yang berkerudung dan beragama sekaligus.”
Kenapa?
Realitas memperlihatkan kepada kita bahwa perempuan berkerudung lebih banyak yang beragama ketimbang perempuan yang tidak memakai kerudung.
Jika ada perempuan tak memakai kerudung tapi beragama (berakhlaq), maka itu adalah pengecualian dari perempuan-perempuan tak berkerudung yang rata-rata kurang berakhlaq.
Begitu pula jika ada perempuan berkerudung tapi tidak/kurang beragama, maka itu adalah pengecualian dari perempuan-perempuan berkerudung yang rata-rata beragama.
Kerudung adalah setengah petunjuk kalau wanita yang memakai kerudung tersebut adalah wanita beragama, setengahnya lagi adalah hati atau perilaku kesehariannya.
Bila perilaku keseharian seorang wanita muslimah sudah bagus namun belum berkerudung, segera lengkapi dengan kerudung, agar setengahnya terlengkapi dan menjadi sempurna. Begitu pula jika seorang wanita muslimah sudah berkerudung, namun akhlaq atau perilaku kesehariannya masih tidak baik, segera lengkapi dengan akhlaq yang baik, agar setengahnya terlengkapi dan menjadi sempurna.
Jadi, jangan ada lagi orang yang berkata “Buat apa berkerudung kalau kelakuan seperti wanita tak beragama (tidak baik), lebih baik tidak berkerudung!!”
Pernyataan itu keliru karena beberapa alasan:
Pertama: Alasan Syar’i
Pernyataan tersebut sama dengan menyeru perempuan untuk melanggar apa yang telah Allah perintahkan kepada wanita muslimah. Di dalam Al-Quran Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzaab: 59)
Kedua: Alasan Logis
Dikatakan sebelumnya bahwa wanita muslimah yang baik akhlaqnya namun tak berkerudung baru setengahnya menunjukkan kalau wanita tersebut beragama, karena setengahnya lagi adalah kerudung, berarti wanita yang tidak baik kelakuannya dan tidak berkerudung, tidak setengah pun menunjukkan bahwa wanita tersebut beragama. Maka, bukankah ini lebih parah nilainya di mata agama? Oleh karena itulah pernyataan di atas tidak menjadi solusi yang tepat.
Solusi yang Tepat
Bagi wanita muslimah yang sudah berkerudung dan merasa kalau akhlaq atau perilakunya masih jauh dari akhlaq seorang wanita muslimah yang sebenarnya, tidak perlu terhasut dengan pernyataan “Buat apa pakai kerudung, kalau…. dst” lantas melepas kerudungnya karena malu.
Solusi yang bijak adalah, biarkan kerudung itu tetap melekat bersamanya sembari berusaha untuk terus mengadakan perbaikan akhlaq atau perilakunya.
Pernyataan Lain
“Kerudungi hati dulu, baru kerudungi penampilan”. Jika pernyataan ini memang pernah terlontar dan pernah ada, alangkah bijak jika pernyataan ini kita ubah menjadi: “Mengerudungi hati tak kalah penting dari mengerudungi penampilan”.
Tentang pernyataan pertama, dikarenakan perbaikan akhlaq adalah proses berkesinambungan seumur hidup yang jelas bukan instan, dan dikarenakan tak ada yang dapat menjamin bagaimana dan seperti apa hari esok dalam kehidupan kita? Masih di atas bumi kah atau di dalam perutnya? Masih memijak kah atau dipijak? Maka menunda berkerudung dengan alasan memperbaiki akhlaq dulu adalah sesuatu yang tidak semestinya dilakukan oleh wanita muslimah mana pun.
Adapun pernyataan kedua, memang demikianlah adanya, bacalah Al-Quran dan tadabburi maknanya, maka kita temukan bahwa hampir setiap kali Allah berfirman tentang wanita muslimah yang baik (beragama), isinya adalah tentang “Bagaimana seharusnya wanita muslimah itu berperilaku?” selebihnya adalah tentang “Bagaimana seharusnya wanita muslimah itu berpenampilan?”. Jika berkenan bacalah QS. An-Nur ayat 31, At-Tahrim ayat 5, 10, 11 dan 12, dan seterusnya.
Pernyataan berikutnya adalah:
“Kerudung itu bukan inti dari Islam!” Ya, saya pribadi setuju, memang bukan inti dari Islam, tapi bagian penting dari Islam yang jika bagian itu tidak ada, maka terlalu sulit untuk dikatakan “Ini Islam” sama sulitnya untuk dikatakan “Ini bukan Islam”.
Dikatakan wanita muslimah sulit karena tidak pernah mau pakai kerudung, dikatakan bukan wanita muslimah juga sulit, karena shalat, zakat dan ibadah-ibadah lainnya tetap dikerjakan, juga akhlaqnya adalah akhlaq wanita muslimah.
Kalau saya ibaratkan, hal ini seperti bangunan rumah yang tak nampak seperti rumah, namun lebih tampak seperti gudang; berjendela tanpa kaca, tanpa lantai ubin, dan tanpa atap dan seterusnya.
Dikatakan rumah sulit, karena dari luar hampir tak dapat dibedakan dengan gudang. Dikatakan bukan rumah juga sulit, karena ternyata penghuninya lengkap, pasangan suami istri dan satu anak lelaki.
Jendela berkaca, pintu, atap, dan lantai ubin memang bukan bagian inti dari rumah, tapi tanpa adanya semua itu, sebuah bangunan akan kehilangan identitasnya sebagai rumah, konsekuensinya, orang-orang akan menyangka kalau bangunan tersebut adalah gudang tak berpenghuni.
Kerudung atau jilbab adalah identitas seorang muslimah (wanita beragama Islam). Kerudung lah yang memberi isyarat kepada lelaki-lelaki muslim bahkan semua lelaki bahwa yang mengenakannya adalah wanita terhormat, sehingga sangat tidak pantas direndahkan dalam pandangan mereka, kata-kata mereka, maupun perbuatan mereka (para lelaki).
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzaab: 59)
Kesimpulan
“Identitas seorang wanita muslimah itu adalah jilbab dan akhlaqnya, akhlaq tanpa jilbab kurang, sama kurangnya dengan jilbab tanpa akhlaq”.
Langganan:
Postingan (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.






