kumpulan corat-coretku, sederhana namun mengasyikan apapun yang aku tulis.

curhatan sesi1

Hallo selamat malam,  hayo yang galau jangan lama-lama ya, masih banyak hal indah yang pasti bakal kamu dapatkan suatu saat nanti untuk dapat menggantikan rasa sakitmu itu. Jatah aku disini cuma sampai jam sepuluh nih, jadi langsung aja ya ceritanya. Ini cuma sebingkai cerita yang layaknya sebuah kata kata yang tak sengaja terukir didalam memori memalui apa yang dapat dirasakan didalam benak jiwa ini. Menumpahkannya atau menangis terdiam sama saja. Sama sama membuang ilusi beban yang tertanggung. Oiya buat tambah galau, ini ada referensi video yang bikin hatimu kayak dipelintir-pelelintir nih rasanya, yuk cek videonya dibawah

yah sebenernya ga dibawah, tapi disamping nih wkeke, oiya, ini lagu arasemennya sumpah enak banget meskipun ga ngerti liriknya banget, masalahnya belum pernah punya mantan terindah huehe. tapi menurut akusih, mana ada mantan terindah? namanya mantan mesti sakitnya dulu yg keinget, nah garagara sakit jadi inget terus gitu deh. gaktau kenapa apa cuma aku aja kalo sakit malah keingetan terus(?) emang dasar manusia -_-

ok kita balik lagi, sebenernya aku tadi mau curhat perasaan aku, yg enath kenapa aku masih bingung mau bilang apa, aku juga takut dia baca. aku mau curhat dia aneh sih, aneh banget malahn ya kan ya, tapi ya pokoknya aneh banget deh. kadang aku pengen jerit kenceng biar semua orang tau kalo dia ga seperti itu, aku pengen dia juga tau bagaimana rasanya semua ini. tapi aku selalu nanemin rasa ibaku kedia entah kenapa. aku pengen selalu dia jadi orang yg terbaik dimata orang yang memandangku. bulshit banget kan ya? kadang kalo inget kelakuannya yg nyakit nyakitin pengen tak tendang sampe langit ke tujuh biar ga ada lagi orang yg bisa nusuk nusuk hatiku lagi.


duhdek lebay banget katakatanya, ya tapi mau gimana lagi, kadang buat mendapatkan itu mudah, mengikat lebih mudah lagi, tapi untuk melepaskan terkadang itu menjadi suatu beban yg sangat mendalam. terkadang kita hanya mencari apa yg sudah hilang bukan apa yg sudah dapat kita rengkuh kedalam genggaman kita.

terkadang belum siap sama keadaan, itu wajar banget kok. yakin deh lama lama terbiasa, cuma setelah terbiasa, e yg nglepasin malah ndeketin lagi kayak kunci nyari gembok, minta di colok colokin ah ah gitu, pas udah masuh uh ah eh oh ih segala *aduh ini apa*

ada kata nglepasin, dilepasin, emang ya yg selalu keliatanyg jadi jahat dan tersangka pasti yg nglepasin, orang pasti mikir, nyesel lho kamu meskipun dia punya nilai (-) tapi dia kan..........tapi dia pernah........tapi dia udah kayak..........tapi tapi tapi tapi~  tapi ada satu hal yang harus kamu inget dan itu sebaiknya harus kamu rubah. ketika kamu udah sabar, malah dibikin marah, jengkel,bm,kesel,capek,lelah,cepek,muak,ga tahan,nangis,mewek,pilik,batuk,nyampe diabetes lah lah.

tapi jaman sekarang sabar ga patokan kok. sabar kadang jadi pro dan kontra. kalo sabar ngadepin padahal dianya udah nglanggar prinsip kamu (misal : namyanya pacaran ya ga banding bandingin cowok/cewek lain didepan matanya maupun dibelakang matanya apalagi sampe dia mewek) nah, tapi dia gitu tuh, mbanding2in ya alusnya muji cewek or cowok lain gituh, nah pasti kamu keganggu dah, itu kamu juga pasti bingung mau sabar apa marah. itusih contoh enteng, contoh yg lebih berat ya misal kamu punya prinsip punya pacar ya yg ngrokok,minum,drugs,atau apalah yg mungkin jadi prinsip pacaran kamu. e yg namanya jodoh ga kemana, kamu malah dapet yg ngorok/minum atau apalah yg nglanggar prinsip kamu. tapi awalnya dia bilang kalo dia ga gitu lagi, tapi yg namanya udah pernah sekali dua kali pasti bakal keulang. nah pas keulang kamu pasti bingung, kalo sabar dikira ga punya prinsip, kalo sabar hati meronta-ronta ah ah gtu terus, pokoknya yg namanya sayang ke orang itu buta deh.

makanya, kalo kamu yakin dia ga pantes, gausah main main sama sayang itu, bahaya! haha ok udah dulu ya, wasalamualaikum ;)
Read More

Kupeluk Engkau di Pangkuan Sang Singa





Aku mengalah. Itu yang aku simpulkan dari cara pandangku. Mungkin berbeda lagi jika kamu yang menyimpulkannya. Mungkin saja kamu akan menyimpulkan bahwa kamu yang mengalah, dan sudah berbesar hati untuk memaafkan dan aku sebagai biang keladi manusia yang tidak memiliki muka. Ya, mungkin kamu dapat memandangku seperti itu, aku tidak akan menyalahkanmu. Sekali lagi, aku tidak akan menyalahkanmu. Aku terkadang malah lebih suka melakukan hal ini, semakin aku merasakan semua yang kamu berikan, semakin banyak alasanku untuk membuktikan pada dunia, pada besok yang akan terjadi. Tapi bibirku selalu lumpuk untuk mengatakannya, mataku selalu buta untuk melihat kebenaran, telingaku selalu tuli untuk mendengar kebaikan, tanganku selalu tak dapat menggapai yang seharusnya mampu aku gapai. Semuanya bagai berlian yang berdebu, indah tetapi tertutup oleh kenistaan. Sungguh ironi, disaat api yang kamu kobarkan, tak dapat kamu halau.
Mataku berpijak pada sebuah titik yang membuatku meragu, yang mana seharusnya dapat aku tegaskan, selau hilang begitu saja dan tak layak untuk aku yakini, padahal seharusnya aku dapat menepis semua rayuanmu, rayuan kelam yang membuat ku jatuh dan lumpuh kedalam lubah hitam yang pada akhirnya membuatku tak berdaya. Aku seharusnya masih dan selalu mengingat kata ayah. Aku tidak akan melupakan perkataanmu itu ayah. Aku sekarang tahu, semua yang kau katakan baik untukku. Seorang ayah tidak akan menjerumuskkan anaknya sendiri. Aku sadar, aku harus bisa berpikir jernih ketika semuanya telah berakhir dan tidak pula membawa kesedihan yang aku alami, aku harus siap dan menghempasnya sejauh mungkin sampai aku tak mampu lagi untuk menjangkaunya. Agar jika nanti aku merindukannya, aku akan gagal merindukannya karena bayangannya saja tak ada dibenakku. Aku harus mampu mempersiapkan diriku ke pagar pemberhentianku dan membuat sketsa apa yang harusnya aku lakukan setelah hal itu terjadi. Ya, aku akan mendengarkan petuah ayah sampai telingaku tak mampu mendengar petuahnya. Menjadi yang terbaik bagi ayah, dan sellau membuatan senyum di wajahnya. Aku tidak ingin ayah kecewa kesekian kalinya. Aku ingin membuat ayah bangga. Oh iya, untuk kali ini, aku akan membuat hatiku iklas, lahir batin merelakannya, mungkin dia bukan yang terbaik, bukan pula yang pantas untukku.
Mungkin digerbang sana, seseorang telah menungguku dengan rasa lelahnya dan bercucuran keringat diwajahnya. Aku tidak akan menerinyanya secepat yang kau pikirkan, tetapi setelah aku bisa menghidupkan semua mimpiku. Aku akan tersenyum untuknya, mencintainya setulus hatiku, dan berharap dia menjadi yang terakhir, aku akan menyatukan tangannya dengan tangan seorang lelaki yang paling aku cintai, yakni ayah! Aku akan membuatnya seperti berlian yang selalu ku usap, karena aku yakin, dia juaga akan menjagaku dengan sekuat tenaga, bukan menyia-nyaiakanku seperti saat ini. Aku selalu berdoa kepada Tuhan, semoga saja Tuhan memberikan kemudahan dikehidupanmu dan mendapat orang yang lebih layak ketimbang aku. Mendapat orang yang dapat menjagamu dan mengikhalskan semua perbuatan yang menyakitinya. Aku tidak akan pernah membawa doa buruk untukmu, aku selalu menyayangimu, tapi untuk sekarang, aku tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok, lusa, maupun yang akan datang. Mari kita berdoa saja untuk kebaikan kita berdua, semoga kita diberi petunjuk dan kelancaran hidup oleh yang maha esa.
Read More

Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Layaknya sebuah melodrama dihiasi tangis tersedu sedu oleh para pemerannya saja. Cukup lucu dan kaku untuk dilihat. 9 November 2013, tepat pukul sore hari. Aku menerima pesan singkat yang cukup menggiurkan dan membuatku terpana. Ia mengungkapkan jika ia mengulangi hal itu lagi. Awalnya aku memang tidak bisa menerima itu semua, aku sudah berkomitmen untuk tidak bisa menerima hal itu lagi. Tapi sifatnya malah membujur kaku kepadaku, api mulai berkobar didalam raganya.
Aku tahu, aku tidak mungkin semakin membakarnya dengan bensin.

Aku harus mengalah dengan caraku, aku harus menyiramnya dengan tetesan air. Aku mungkin yang harus menerima apiku yang aku peluk dengan tetesan air, yang nanti akan kubasuh dengan kasih sayang airku, yang akan ku kecup dengan belaian airku, yang akan ku genggam denang kemurnian cinta yang tumbuh seiring berjalannnya waktu. Aku yakin aku bisa menjaganya, aku bisa membuatnya berubah meskipun hanya pelan pelan. Tapi aku ragu. Ragu jika tidak bisa membuatmu lengah, ragu jika tidak bisa membalas dan mengerti yang telah aku berikan, ragu jika apimu berkobar lagi dan mencengkeramku secara erat dan membuat airku teriris dan berhenti menetes. Aku takut ketika airku tak mau keluar lagi karena ia marah. Marah akan sikapmu yang terlalu kasar. Aku takut airku memberontak dan tidak bisa lagi menerima keadaanmu.

Aku bingung harus sepertin apa memperlakukan kamu sebagai orang yang sesungguhnya dapat meneduhkan hati, melingungi batinku, dan menjaga jiwaku. Tapi aku harus tetap mengerti anganmu, aku tidak akan pernah membeci sikap dan caramu memerlakukan dirimu sendiri. Karena daun yang jatuh tak akan membenci angin. Aku tak akan membenci karena kamu membuatku jatuh cinta, aku tak akan pernah membenci karena kamu memtikku ku dari persinggahanku, aku tak akan membenci karena kamu bergerak terlalu cepat Aku tak akan pernah dan tak akan pernah bisa membencimu. Meskipun pada akhirnya kau yang akan menghujamku dengan semuanya.



Read More

Raungan Setelungkup Mawar Layu

Ini apa? Selalu hal ini terjadi lagi dan lagi. Mengapa? Aku lelah dengan semua ini. Kadang akupun juga merasa tak sanggup menjalaninya kembali. Aku mungkin bisa memilih untuk berhenti dan menutup rapat - rapat semua tentangmu, tentangmu yang abstrak ini. Terkadang hal tentangmu membuatku menyunggingkan dan menarik lebar bibirku tetapi ternyata hal tersebut tidak dapat selamanya tetancap secara permanen di keadaan kita ini. Ternyata ada saatnya pula kuharus membengkokkan bentuk bibirku kearah dalam tanda aku muak dengan semuanya. Mungkin kamu bisa berpikir bahwa aku hanya seorang gadis dengan raut wajah manjanya yang tidak berpikir dewasa sama sekali. Tapi apakah kau tahu bahwa tidak selamanya kau benar? Tidak selamanya yang kau pikirkan ini benar dan sama denganku? Kita ini hanyalah dua makluk tuhan yang memiliki pemikiran dan perasaan yang berbeda beda. Harus maklum jika kita bertemu dengan keadaan yang memaksa kita untuk harus mengerti satu sama lain. Ya, hari ini. Kejadian itu terjadi lagi. Kepalaku seperti pecah rasanya. Seperti mengucur darah segar melewati tiap lubang yang ada ditubuhku. Berlebihan? Tidak, mungkin kalian yang menilai berlebihan belum merasakannya berada dititik ini. Ingin rasanya memberontak, mengeluarkan semuanya, tapi aku masih menghargai posisinya. Aku mungkin masih bisa berpikiran yakin bahwa ia yang terbaik untukku. Aku masih berharap seperti itu, karena aku berfikir ini hanyalah fase biasa yang memang seharusnya ada dan dijalani. Aku harus berusaha mempertahakannya dan meyakini tidak ada orang lain yang bisa menggantikannya didalam lubuk yang berada disana. Tapi aku masih selalu mengingat ketika amarah itu meluap-luap. Sangat gersang dan aku hampir tak sanggup untuk menggenggamnya. Dia terasa semakin menjauh dariku, telihat tidak jelas, berubah, dan bukan seperti sebelumnya.
Read More

Kunang - Kunang Liar

Hey kamu, ya kamu yang misterius itu. Yang selalu menempatkan kedua padangannya keporos wajahku, yang selalu memalingkan wajahnya ketika aku mengetahui ia sedang meluruskan pandangannya kepadaku. Yang selalu mendekat ditengah keramaian, yang selalu bersikap lembut di hadapanku. Ah tidak, aku pasti salah mengira semua hal ini. Ini hanya pemikiran semu yang terlontar dari benakku. Pasti ini tidak nyata dan tak benar. Aku tidak seharusnya memikirkan kehadirannya yang tak wajar ini. Ini terlalu cepat dan terlalu dini untuk cepat berarti dan beranjak dari kesadarku. Sungguh hal bodoh dan pemikiran bodoh. Tapi kejadiaan ini ternyata membuat suatu fakta yang muncul dikehidupanku, "merajut hal yang sifatnya estetika itu lebih mudah direalisasikan dengan suatu pertemuan". Dia hal biasa yang seharusnya tidak menimbulkan rasa ketertarikanku untuk lebih mengenalnya. Dia juga seharusnya bukan sesuatu yang dapat menarik torehan titik demi titik lalu merajutnya menjadi sesuatu yang indah yang membuatku terlena. Dia bukan hal yang selayaknya aku kenal dan aku rasakan pula hal yang terjadi pada dirinya. Dia bukan pula orang yang seharusnya aku selami seluk beluknya. Sudahlah bodoh, jangan mengada-ngada. Lupakan dan jangan mengira kamu itu dapat membuat sosoknya itu sangat membutuhkanmu. Ingat hal yang terkini, jangan membuat dirinya menjadi separuh dari nafas yang kau hirup, cahaya yang menerangimu, setetes ar yang kau teguk, dan aliran api yang akan membakarmu kelak, disaat kamu mulai lengah, batas pertahananmu akan muncul. Disutulah hal yang tidak seharusnya kamu terima menjadi kamu terima. Anggaplah ia itu hanya sesosok kunang - kunang, yang hanya sekilas menerangi setitik kegelapan dihati, biarkan tetap liar, karena tidak seharusnya kamu rawat dengan rasa perhatian dan tanggung jawabmu.

Read More
Diberdayakan oleh Blogger.

© dara hermalita n♔, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena